Prinsip-Prinsip Peradaban dalam Perspektif Islam (2)

c. Prinsip Manusia sebagai Makhluk yang Mulia
Allah Ta’ala berfirman QS. Al-Isra 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Lantas dimanakah letak kemuliaan manusia tersebut?
1. Allah muliakan manusia dengan logika dan perasaan
Dua unsur ini (logika dan perasaan) merupakan media ilmu pengetahuan, alat penyingkap esensi dan hakikat sesuatu serta berperan dalam menyingkap kebesaran dan keagungan Allah Ta’ala di alam semesta ini. Allah berfirman QS. An-Nahl 78:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Sebagai timbal balik dari karunia Allah Ta’ala ini, manusia diembankan tanggung jawab oleh Allah bilamana ia tidak memanfaatkannya dalam ketaatan dan loyalitas pada Allah. Allah berfirman QS. Al-Isra’ 36:
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Bahkan Allah mendeskripsikankan orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya ibarat hewan ternak bahkan lebih. QS. Al-A’raf 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

2. Allah Mengangkat Manusia Menjadi Pemimpin Dunia
QS. Al-Baqarah 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".

QS. Al-An’am 165:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ
Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi.

Selama manusia menjadi khalifah di muka bumi berarti ia lah pemimpin, penanggung jawab, penguasa, dan penyingkap misteri alam semesta. Hal ini tidak akan terealisasi kecuali jika dibarengi oleh ilmu pengetahuan agar bisa menundukkan kekuatan-kekuatan alam semesta dalam rangka perwujudan kemajuan peradaban dan kemuliaan manusia.

3. Allah Tundukkan Alam Semesta untuk Manusia
QS. Al-Jaatsiyyah 12-13:
اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Allah lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.

Selagi alam semesta ditundukkan oleh Allah demi kepentingan manusia, makanya manusia sangat dituntut mengeksploitasinya demi kepentingan kemajuan peradaban, human service, serta demi kemuliaan spesies manusia. Bertolak dari penjelasan diatas, kita semakin menyadari bahwa kemuliaan yang Allah anugerahkan pada manusia merupakan salah satu akses menuju sebuah peradaban modern dan akses menuju penemuan hal-hal baru dalam ilmu pengetahuan dan sains.

d. Prinsip Persamaan HAM
QS. An-Nisa 1:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya: dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

QS. Al-Hujurat 13:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.

Dalam khutbah Rasulullah ketika haji wada’ beliau berpesan:
كلكم لآدم، وآدم من تراب، لا فضل لعربي على عجمي، ولا لأبيض على أسود إلاَ بالتقوى والعمل الصالح
ِArtinya: Masing-masing kamu berasal dari Adam, sementara Adam berasal dari tanah, orang Arab tidak lebih utama dibanding non-Arab dan orang putih tidak lebih baik dibanding orang hitam kecuali dengan taqwa dan amal shalih.

Semua teks ini kembali menegaskan bahwa semua pihak yang berafiliasi dalam naungan panji Islam, berarti secara otomatis ia telah berkontribusi dalam kemajuan peradaban manusia tanpa memandang bangsa, warna kulit dan bahasa. Sejarah telah menuturkan bahwa orang-orang non-Arab pernah memegang tampuk kekuasaan tertinggi dan jabatan yang mulia dalam pemerintahan Islam bahkan tercatat juga bahwa mereka merupakan ahli dan pakar terkenal dalam kecerdasan dan kemajuan peradaban. Mereka itu seperti Abu Hanifah, Sibawaih, Al-Bairuny, Khawarizmy, Ar-Razi, Ibnu Sina dan para pakar lain dalam bidang hukum Islam, kedokteran, matematika, filsafat, sejarah, falak, geografi, dan disiplin-disiplin ilmu lain. Bahkan sejarah telah mencatat mereka sebagai orang-orang yang pernah berkontribusi dan berjasa dalam peradaban manusia. Diantara realita yang menguatkan pernyataan diatas:
 Umar bin Khattab RA pernah bertemu dengan Nafi’ ketika ia hendak berangkat haji, ………..
 Atho’ bin Abi Rabbah budak Bani Fahr pernah diamanahkan tugas masalah perfatwaan di Makkah, dan pernah suatu ketika juru penerangan dari dinasti Umayyah menginformasikan pada musim haji: “tidak ada yang berhak mengeluarkan fatwa selain Atho bin Abi Rabbah”. Seorang sosok alim Atho’ dengan penampilan yang sederhana, kulit agak hitam dan bukan berasal dari keturunan Arab memangku jabatan tinggi dan strategis dalam satu negara.
 Thowus bin Kisan -keturunan Persia- tidak peduli meski sering membeberkan kekurangan dan kesalahan para penguasa yang beliau sampaikan dalam berbagai ceramahnya, namun beliau sangat disegani dan sering dimintai pendapat oleh para penguasa dan ketika beliau wafat, jenazahnya di arak oleh orang-orang Arab dalam jumlah yang sangat banyak.
 Washil bin Atho’ penganut Mu’tazilah pernah menjadi hamba sahaya Bani ……. Akhirnya ia menjadi ahli bahasa, sastra dan ilmu-ilmu lain. Tak ada yang bisa memungkiri kepiawaian dan kecerdasannya dalam disiplin ilmu tersebut.
 Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain yang tidak diungkapkan karena begitu banyaknya. Tiada yang mampu menutup mata dan berpura-pura tidak mengenal perdaban Islam di era dinasti Saljuk dan Timor di Asia Tengah. Begitupula peranan orang-orang Turki dalam Dinasti Utsmaniyyah (Otthoman) dalam kemunculan, kebangkitan peradaban dan kejayaan peradaban Islam. Jika kita amati satu persatu, mereka semua bukan berasal dari Arab. Dari sini kita semakin memahami bahwa setiap individu yang menjalankan agama Islam ini dari semua aspek seperti aqidah, ibadah dan hukum, berarti telah ikut serta dalam membangun peradaban kemanusiaan dan kemuliaaan umat Islam sepanjang zaman.

Kesimpulannya, bahwa prinsip persamaan derajat dan HAM dalam Islam merupakan pintu akses menuju kemunculan dan kejayaan peradaban manusia sepanjang sejarah.


e. Prinsip Transparansi dan Kesediaan untuk Saling Memahami.
Firman Allah QS. Al-Hujurat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadits riwayat Tirmizi dan ‘Askary: “hikmah merupakan barang hilang orang yang bijak, bila ia menemukannya maka ia berhak terhadapnya.

Diantara bukti prinsip keterbukaan dalam Islam adalah perilaku baik, bijak dan adil dalam menghadapi orang-orang yang berbeda agama namun mereka tidak mengusik, mengusir dan memerangi umat Islam dari negerinya karena motif agama. Firman Allah QS. Al-Mumtahanah 8:
لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Artinya: Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Bukti lain, sikap dan perilaku menepati janji meskipun terhadap orang-orang musyrik. Firman Allah QS At-Taubah 4:
إِلا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَى مُدَّتِهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
Artinya: kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian) mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

Hal lain yang menegaskan sikap keterbukaan umat Islam adalah melindungi orang-orang non muslim yang meminta suaka dengan harapan mereka dapat mendengarkan kebenaran dan bersedia mengikutinya. Firman Allah QS. At-Taubah 6:
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ
Artinya: Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.

Bentuk lain dari sikap terbuka umat Islam adanya legitimasi dan izin memakan sembelihan ahli kitab dan menikahi wanita ahli kitab. QS Al-Maidah 5:
الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ
Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.

Berdasarkan nash-nash diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa umat Islam terbuka terhadap non muslim dan bersedia untuk lebih mengenal dan memahami bangsa-bangsa lain meskipun berbeda keyakinan. Hasil yang dipetik umat Islam dari sikap terbuka ini adalah mereka bisa mengenal dan mengambil manfaat dari model peradaban dan kemajuan yang beraneka ragam, seperti peradaban Yunani, Romawi, Persia, India dan peradaban-peradaban lain yang semasa. Umat Islam berupaya menggali semua produk-produk peradaban di atas, sehingga muncul beragam pengalaman dan pengetahuan umat yang mencakup aspek yang lebih luas baik di bidang perindustrian, bisnis dan perdagangan, pertanian, pembangunan infrastruktur, ilmu pengetahuan dan sains, serta kesenian. Dan yang perlu dingat, upaya penggalian produk-produk peradaban tersebut tidak hanya sampai disitu saja, karena pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan dari mereka mesti dilebur dan dicelup terlebih dahulu dengan nilai-nilai Islamy, hingga akhirnya lahir sebuah peradaban yang telah berstempel dan bercap Islam.

Jika Islam telah dibekali dengan prinsip-prinsip di atas (keuniversalan konsep ilmu, memikirkan hasil ciptaan Allah, manusia makhluk yang mulia, persamaan derajat dan HAM, dan terbuka) maka sudah sepantasnya bagi umat Islam yang benar-benar memahami prinsip-prinsip agama mereka dan bertindak selaras dengan tuntutan syariat Islam untuk membawa obor penerang ilmu pengetahuan dan sains, mengenalkan panji-panji peradaban dan kemajuan Islam ke pentas dunia, menjadi penguasa dan pemimpin dunia, pembawa suluh hidayah ke tengah-tengah percaturan kemajuan bangsa-bangsa serta mampu menjadi mercusuar yang bersinar terang di tengah kegelapan samudera di belantara malam.

Ketika para pendahulu kita telah memahami Islam dengan pendekatan konsep ini, kemudian mereka berupaya memanifestasikan ajaran-ajaran tersebut dalam wujud kerja nyata, akhirnya mereka mampu menjadi pemimpin-pemimpin dunia, tokoh-tokoh besar yang tercatat dalam tinta sejarah, para pemikir handal serta pemikul bendera-bendera kemajuan peradaban. Tidak hanya itu, bahkan belahan dunia Barat dan Timur berupaya menyerap hasil pengetahuan umat Islam, menimba ilmu dari sumber-sumber sains Islam serta bangkit menuju pencerahan karena berkat peradaban dan kemajuan Islam.

Nanti pembaca yang budiman dapat pula melihat dalam bab “kesaksian-kesaksian” sebuah kajian betapa banyak orientalis, para pakar ilmu sosial, dan para filusuf objektif yang menilai akan keagungan peradaban Islam dalam dunia kedokteran, kimia, fisika, matematika, filsafat, sosial, astronomi dan sejarah. Lalu sejauh manakah peradaban ini mampu memberikan dampak dan pengaruh terhadap kebangkitan negara-negara di kawasan Barat dan Timur pada zaman modern ini? Pembaca juga akan menemukan dalam bab “jalur dan akses peradaban Islam” bahasan seputar proses transformasi peradaban Islam ke belahan dunia Timur dan Barat serta pencerahan kehidupan kemanusiaan sebagai produk dari peradaban Islam yang kekal. Dan dalam bab “Ruang Lingkup dan Dampak Peradaban Islam dalam Pembangunan Infrastruktur Dunia” bahasan bagaimana konsep peradaban Islam yang komferhensif dan variatif serta bagaimana pula pengaruhnya terhadap kebangkitan bangsa-bangsa. Untuk itu, sudah menjadi keniscayaan bagi para pemuda Islam pejuang agama ini guna memahami esensi dari konsep Islam dan keagungan agama ini.

Posted by arif fortuna on 23.25. Filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 komentar for �Prinsip-Prinsip Peradaban dalam Perspektif Islam (2)�

Leave comment

dailyvid

FLICKR PHOTO STREAM

2010 BlogNews Magazine. All Rights Reserved. - Designed by SimplexDesign