Prinsip-Prinsip Peradaban dalam Perspektif Islam (1)
artikel, pemikiran 01.06
a. Prinsip Universalitas Ilmu
Allah SWT meninggikan derajat ilmu pengetahuan, memotivasi untuk membaca dan memuliakan pena sebagai media. Dalam ayat yang pertama kali diturunkan pada Rasulullah QS. Al-‘Alaq 5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Allah Ta’ala juga menyandingkan kualitas iman dengan ilmu sebagai sinyalemen akan ketinggian dan kemuliaan derajat para ulama disisi Allah. QS. Al-Mujadilah 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Rasul Saw memposisikan kedudukan dan ganjaran pahala para penuntut ilmu setara dengan barisan mujahidin fisabilillah yang berjuang menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Tirmizi:
من خرج في طلب العلم فهو في سبيل الله حتى يرجع
Artinya: Siapa yang pergi untuk menuntut ilmu berarti ia berada dalam jalan Allah (fisabililllah) hingga ia kembali.
Rasul Saw juga mengkategorikan jalan para penuntut ilmu sebagai jalan menuju syurga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim:
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة
Dan atas dasar “spirit ilmiah” yang diangkat Islam ini pula, sejarah pernah mengukir detik-detik disaat seorang Al-Bairuni yang berada dalam kondisi sakaratul maut, dihadapannya masih berlangsung sebuah diskusi mengangkat tema yang agak rumit seputar problematika warisan. Al-Bairuni meminta salah seorang yang hadir dalam ruangan tersebut guna menjelaskan duduk persoalannya pada beliau, salah seorang hadirin angkat bicara: masih masih sempatkah engkau menanyakan persoalan ini sementara engkau berada dalam kondisi seperti ini (sakartul maut)?. Lantas Al-Bairuni menjawab: “kondisi disaat saya bertemu Allah dalam keadaan memahami persoalan-persoalan tersebut lebih utama ketimbang saya tidak mengetahuinya sama sekali”.
Ilmu pengetahuan dalam konteks Islam mencakup semua ilmu yang bermanfaat, baik ilmu agama maupun ilmu dunia, bersifat teori maupun eksperimen, atau kewajibannya yang ditujukan pada masing-masing individu (fardhu ‘ain) maupun kewajiban kolektif yang bisa diwakilkan (fardhu kifayah). Selama ilmu tersebut masih berjalan dalam koridor pelayanan kepentingan agama dan dunia, demi kemajuan dan peradaban serta selama masih jelas-jelas demi kepentingan kehidupan dan kemanusiaan.
Bukti-bukti yang Mengungkap Keuniversalan Konsep Ilmu dalam Islam
Ketika Islam memotivasi umat guna menuntut ilmu, Islam tidak meletakkan batasan-batasan apakah ini ilmu agama atau ilmu dunia, ini teori atau eksperimen. Sebaliknya, Islam menetapkan terminologi ilmu yang mencakup semua ilmu yang bermanfaat bagi umat untuk kepentingan agama dan dunia mereka. Firman Allah QS. Thoha 20:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Artinya: Dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."
Dalam ayat diatas, cakupan pengertian ilmu pengetahuan tidak terbatas hanya pada ilmu agama atau ilmu dunia semata, namun lebih kepada sebuah istilah yang bersifat global dan mencakup dua sisi tersebut, atau dengan kata lain mencakup semua jenis ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan.
Disamping itu Allah berfirman QS. Al-Anfaal 8:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
Artinya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.
Persiapan ini mencakup semua hal yang terkait dengan materi, fisik, serta moral. Sehingga semua ilmu yang dituntut demi semua persiapan tersebut tergolong dalam kategori kewajiban kolektif atau fardhu kifayah bagi umat Islam. Berdasarkan prinsip ini, mempelajari ilmu tekhnik, fisika, kimia, atom dan listrik merupakan fardhu kifayah bagi umat Islam yaitu kewajiban sekelompok umat Islam yang jika telah ditunaikan berarti terlepaslah tanggung jawab yang lain, sementara jika tidak ada seorang pun individu yang menjalankannya maka setiap muslim ikut menanggung dosa.
Bukti lain yang menguatkan konsep keuniversalan ilmu dalam Islam adalah keberadaan teks-teks Al-Quran yang memberikan motivasi untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi -pada dasarnya- merupakan dorongan untuk melakukan eksperimen dengan segenap ragam dan variasinya, karena ketika seorang muslim mengamati rahasia-rahasia alam semesta, mendalami misteri-misterinya serta mengkaji sunnatullah yang berlaku di alam, maka hal itu akan semakin meningkatkan dan memperkokoh keimanan pada Allah yang Maha Menciptakan dan akan semakin mengagumi ciptaanNya yang indah. Dari sini kita dapat memahami firman Allah QS. Fathir 28:
Persiapan ini mencakup semua hal yang terkait dengan materi, fisik, serta moral. Sehingga semua ilmu yang dituntut demi semua persiapan tersebut tergolong dalam kategori kewajiban kolektif atau fardhu kifayah bagi umat Islam. Berdasarkan prinsip ini, mempelajari ilmu tekhnik, fisika, kimia, atom dan listrik merupakan fardhu kifayah bagi umat Islam yaitu kewajiban sekelompok umat Islam yang jika telah ditunaikan berarti terlepaslah tanggung jawab yang lain, sementara jika tidak ada seorang pun individu yang menjalankannya maka setiap muslim ikut menanggung dosa.
Bukti lain yang menguatkan konsep keuniversalan ilmu dalam Islam adalah keberadaan teks-teks Al-Quran yang memberikan motivasi untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi -pada dasarnya- merupakan dorongan untuk melakukan eksperimen dengan segenap ragam dan variasinya, karena ketika seorang muslim mengamati rahasia-rahasia alam semesta, mendalami misteri-misterinya serta mengkaji sunnatullah yang berlaku di alam, maka hal itu akan semakin meningkatkan dan memperkokoh keimanan pada Allah yang Maha Menciptakan dan akan semakin mengagumi ciptaanNya yang indah. Dari sini kita dapat memahami firman Allah QS. Fathir 28:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
Karena seorang yang alim ketika pengetahuannya bertambah tentang misteri-misteri yang terjadi di alam, maka semakin bertambah pula keimanan dan taqwanya pada Allah.
Bukti lain yaitu sebuah kaidah dalam disiplin ilmu ushul fiqh yang mengungkapkan: “sebuah kewajiban yang tidak terealisasi kecuali dengan keberadaan unsur pendukung, maka unsur pendukung tersebut termasuk pula dalam kategori wajib.
Artinya, jikalau seandainya persiapan perang pada zaman dahulu masih terbatas dengan menggunakan perlengkapan kuda, baju perang, anak panah dsb yang memang relevan dengan spirit zaman waktu itu, maka tentu kondisinya akan berbeda jika kita komparasikan dengan zaman sekarang, karena umat Islam harus menyiapkan rudal-rudal, bom, pesawat tempur, dan meriam sebagai perlengkapan perang, seiring dengan tuntutan perlengkapan persenjataan zaman sekarang, agar umat Islam mampu mengimbangi kekuatan orang kafir dengan persenjataan yang serupa. Karena jika tidak, maka sesungguhnya umat Islam telah berbuat dosa karena mereka tidak menunaikan kewajiban ini dan mengabaikan persiapan kekuatan guna menghadapi orang-orang kafir.
Dari sini dapat kita pahami bahwa konsep ilmu pengetahuan dalam Islam punya peranan yang dominan sebagai pembuka akses menuju sebuah kemajuan peradaban sepanjang masa.
b. Prinsip Memikirkan Ciptaan Allah SWT
Betapa banyak dan menakjubkannya ayat-ayat Al-Quran yang mendorong untuk mengamati dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, sembari mengumandangkan agar logika dan rasio manusia berupaya memahami dan mentadabburinya sehingga mereka bisa mencapai ilmu, substansi dan hakikat yang benar. Diantara ayat-ayat tersebut:
QS. Al-Baqarah 164:
Karena seorang yang alim ketika pengetahuannya bertambah tentang misteri-misteri yang terjadi di alam, maka semakin bertambah pula keimanan dan taqwanya pada Allah.
Bukti lain yaitu sebuah kaidah dalam disiplin ilmu ushul fiqh yang mengungkapkan: “sebuah kewajiban yang tidak terealisasi kecuali dengan keberadaan unsur pendukung, maka unsur pendukung tersebut termasuk pula dalam kategori wajib.
Artinya, jikalau seandainya persiapan perang pada zaman dahulu masih terbatas dengan menggunakan perlengkapan kuda, baju perang, anak panah dsb yang memang relevan dengan spirit zaman waktu itu, maka tentu kondisinya akan berbeda jika kita komparasikan dengan zaman sekarang, karena umat Islam harus menyiapkan rudal-rudal, bom, pesawat tempur, dan meriam sebagai perlengkapan perang, seiring dengan tuntutan perlengkapan persenjataan zaman sekarang, agar umat Islam mampu mengimbangi kekuatan orang kafir dengan persenjataan yang serupa. Karena jika tidak, maka sesungguhnya umat Islam telah berbuat dosa karena mereka tidak menunaikan kewajiban ini dan mengabaikan persiapan kekuatan guna menghadapi orang-orang kafir.
Dari sini dapat kita pahami bahwa konsep ilmu pengetahuan dalam Islam punya peranan yang dominan sebagai pembuka akses menuju sebuah kemajuan peradaban sepanjang masa.
b. Prinsip Memikirkan Ciptaan Allah SWT
Betapa banyak dan menakjubkannya ayat-ayat Al-Quran yang mendorong untuk mengamati dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, sembari mengumandangkan agar logika dan rasio manusia berupaya memahami dan mentadabburinya sehingga mereka bisa mencapai ilmu, substansi dan hakikat yang benar. Diantara ayat-ayat tersebut:
QS. Al-Baqarah 164:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi: Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
QS. Ali Imran 190:
QS. Ali Imran 190:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
QS. Yunus 101:
QS. Yunus 101:
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لا يُؤْمِنُونَ
Artinya: Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".
QS. Ar-Ruum 8:
QS. Ar-Ruum 8:
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ
Artinya: Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.
QS. Ar-Ruum 24:
QS. Ar-Ruum 24:
وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.
QS. Al-Ghaasyiyah 17-21:
QS. Al-Ghaasyiyah 17-21:
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ () وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ () وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ () وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ () فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ
Artinya: Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.
Teks-teks Al-Quran ini disamping menyita perhatian manusia terhadap eksistensi Allah yang Maha Esa serta menggerakkan hati, perasaan dan jiwa manusia untuk beriman kepadaNya, maka disaat yang sama teks-teks tersebut juga berkontribusi membuka rasio serta logika manusia guna memahami konsep-konsep baru tentang pengetahuan alam, ilmu biologi dan rahasia di balik kehidupan. Tujuannya agar semakin meningkatkan keimanan terhadap kebesaran Sang Pencipta, mengokohkan keyakinan dalam jiwa akan takdirNya. Maha Suci Allah yang telah berfirman dalam QS. Fushshilat 53:
Teks-teks Al-Quran ini disamping menyita perhatian manusia terhadap eksistensi Allah yang Maha Esa serta menggerakkan hati, perasaan dan jiwa manusia untuk beriman kepadaNya, maka disaat yang sama teks-teks tersebut juga berkontribusi membuka rasio serta logika manusia guna memahami konsep-konsep baru tentang pengetahuan alam, ilmu biologi dan rahasia di balik kehidupan. Tujuannya agar semakin meningkatkan keimanan terhadap kebesaran Sang Pencipta, mengokohkan keyakinan dalam jiwa akan takdirNya. Maha Suci Allah yang telah berfirman dalam QS. Fushshilat 53:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Artinya: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
Dari sini kita pahami bahwa memikirkan hasil ciptaan dan kreasi Allah merupakan salah satu akses menuju sebuah peradaban dan merupakan cahaya penerang untuk menyingkap ilmu pengetahuan sepanjang masa hingga hari kiamat kelak.
Dari sini kita pahami bahwa memikirkan hasil ciptaan dan kreasi Allah merupakan salah satu akses menuju sebuah peradaban dan merupakan cahaya penerang untuk menyingkap ilmu pengetahuan sepanjang masa hingga hari kiamat kelak.
